m2s blog

Aku Adalah Aku dan Akan Tetap Menjadi AKu

Renunglah !

Ditulis oleh indra1082 di/pada 15,April 2008

Renunglah selalu perjalanan hati

Renunglah selalu hati kita

Karena ia merupakan sumber kebaikan dan kejahatan

Wadah kekhufuran dan keimanan

Rebutan diantara Malaikat dan Syetan

Hati perasaannya halus

Sentuhannya tidak terasa

Tapi sangat memberi kesan didalam kehidupan kita

Siapa yang arif perjalanan hatinya

Paham kebaikan dan kejahatannya

Bersungguh bermujahadah membuang kejahatannya

Diganti segera dengan kebaikan

Orang itu akan selamat dari tipu daya Syetan dan dunia

Ramai orang tidak paham perjalanan hatinya sekalipun ulama

Terima saja yang baik dan buruknya

Kemudian merasakan baik semuanya tiada terasa lagi membuat dosa

Disinilah perlu pimpinan

Guru yang mengenal hati manusia

ctt: dari buku “Mengenal diri” karya  “Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad Attamimi”

Ditulis dalam Catatanku, Muslim, Renungan | yang berkaitan: , , | 25 Komentar »

Tuntunan (intermezo) Bertaubat

Ditulis oleh indra1082 di/pada 1,Februari 2008

Dari anda untuk anda dan semuanya

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222).

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan)dosa(nya).” (QS. Al Furqaan: 68-70.).

“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

“Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian.” (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan ia menghukumkannya sebagai hadits hasan dalam kitab sahih Jami’ Shagir - 5235)

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala, ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka kedalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak -bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari(pembalasan?)kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS.Ghaafir: 7-9).

“Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? .” (QS. At-Taubah: 104)

“Dan Dialah Yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syuuraa: 25)

Dan dalam menyipati Dzat Allah SWT: “Yang mengampuni dosa dan menerima taubat.” (QS. Ghaafir: 3)

“Maka barangsiapa yang bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu, dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Maaidah: 39)

“Tuhanmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya, dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al An’aam: 54)

“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu, dan memperbaiki ( dirinya) sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 119)

“Maka bertaubatlah kepada Tuhan Yang menjadikan kamu, dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu, pada sisi Tuhan Yang menjadikan kamu, maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang .” (QS. Al Baqarah: 54)

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 64)

“Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 128).

Ditulis dalam Belajar, Muslim, Renungan | yang berkaitan: , , | 5 Komentar »

Genggamlah Gundah dengan Senyum

Ditulis oleh indra1082 di/pada 26,Oktober 2007

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan
melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan
rumah. “Yah, beras sudah habis loh…” ujar isterinya. Suaminya hanya
tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh
panggilan anaknya dari dalam rumah, “Ayah…, besok Agus harus bayar
uang praktek”.
“Iya…” jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah
lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.
Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, “besok
beliin lengkeng ya” dan saya hanya menjawabnya dengan “Insya Allah”
sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak
berjinjing buah kesukaannya itu.
Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, “jangan lupa, pulang
beliin susu Nadia ya”. Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung
dan sedikit berkelakar, “ini, anak siapa minta susunya ke siapa”.
Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke
nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau
tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika
sebaliknya?
Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi
setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang
belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak
bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar
tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering
mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya
terlamun.
Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya
tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, “Iya,
nanti semua Ayah bereskan” meski dadanya bergemuruh kencang dan
otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua
gundah yang ia genggam.
Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali
gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat
lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang
dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama
menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak
perlahan-lahan.
Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah
sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi
menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam
penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu
yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.
Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu
rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka,
atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-
anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang
didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah
hari itu.
Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu
kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali.
Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia
menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa,
menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram
oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela
menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.
Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan
sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya
kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam
setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya
kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari
itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang
ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada
dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.
Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus
menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan
menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan
berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan
membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya
yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.
Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan
senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum
dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.

kiriman :Emmanuel Thelma (“Emmanuel Thelma” <staff-contract@indotruck-utama.co.id&gt ;)

Ditulis dalam Cerita, Muslim, Renungan | yang berkaitan: , , | 1 Komentar »

Hak Kaum Muslim

Ditulis oleh indra1082 di/pada 22,Oktober 2007

Hak Seorang Muslim Terhadap Muslim Lainnya ada 6 macam

  1. Bila bertemu ucapkanlah salam
  2. Bila diundang hadirilah (Kabulkanlah)
  3. Bila diminta nasihat, nasihatilah
  4. Bila dia bersin dan mengucapkan “Alhamdulillah”, maka doakanlah dengan ucapan “Yarhamukallah”
  5. Bila Ia sakit kunjungilah
  6. Bila Ia meninggal antarkanlah sampai kekuburannya

(H.R.Bukhari)

Ditulis dalam Baca ini, Belajar, Muslim | yang berkaitan: , , | 1 Komentar »

Perda Al Qur’an di Sekolah Akan Diberlakukan di Sulsel

Ditulis oleh indra1082 di/pada 21,Oktober 2007

Gunawan Mashar - detikcom

Makassar - Pendidikan baca Al Qur’an akan menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah formal di Sulsel. Pasalnya, kini DPRD Sulsel telah menyetujui pemberlakuan Perda ini pada rapat Paripuna DPRD Sulsel yang digelar Selasa 18 April.

Dengan pemberlakuan ini, berarti tiap sekolah di Sulsel wajib memasukkan pendidikan Al Qur’an dalam mata pelajaran muatan lokal.

“Kecuali sekolah yang didominasi oleh siswa yang tidak beragama Islam. Namun, siswa Islam yang sekolah di sekolah dominan non Islam, musti mengikuti pendidikan Al Qur’an lewat jalur informal,” tutur Anas Genda, anggota Pansus Ranperda Pendidikan Al Qur’an, DPRD Sulsel ketika ditemui detikcom di Gedung DPRD Sulsel, Jl Urip Sumohardjo, Rabu (19/04/2006).

Dalam Perda ini, diatur 3 jalur Pendidikan Al Qur’an yang diajarkan kepada siswa.

Jalur pertama adalah lewat pendidikan formal. “Setiap sekolah yang dominan Islam, wajib mengajarkan pendidikan Al Qur’an,” ucap Anas.

Jalur kedua yakni melalui pendidkan informal, yaitu pengajaran mengaji di rumah. “Informal ini melalui orangtua. Misalnya ia mengajar anaknya mengaji. Tapi ini berlaku bagi anak yang sekolah di sekolah yang banyak muridnya beragama non Islam,” terang Anas.

Jalur ketiga yakni jalur nonformal. Jalur ini berupa Tempat Pendidikan Al Qur’an (TPA) dan sejenisnya. Khusus jalur informal dan nonformal pemberlakukannya lebih lanjut akan diatur dalam peraturan gubernur.

Peserta Didik Bersertifikat

Dengan adanya Perda ini, setiap siswa yang telah lulus mata pelajaran ini akan diberi sertifikat. “Nah pemberian sertifikat untuk jalur informal dan nonformal yang akan diatur lebih detail oleh peraturan gubernur agar sertifikatnya tidak asal kasih. Juga agar tenaga pengajarnya tidak sembarangan lebih lanjut akan ditentukan bagaimana kualifikasinya,” beber Anas.

“Pada jalur informal, akan ditentukan syaratnya sehingga si anak yang diajar secara informal ini layak mendapat sertifikat,” kata Anas, yang juga wakil ketua Komisi E DPRD Sulsel.(nrl)

Sudah seharusnya Peranan Pemerintah untuk mempersiapkan Generasi Bangsa yang cerdas tangguh berakhlak Qur’ani dan siap menghadapi zaman….

Jika generasi akan datang rusak, memble, susah diajak/tidak mau memberantas Kemaksiatan malahan jadi Aktor maksiat jadi koruptor jadi maling jadi pemerkosa & jadi jadian….
Jangan menyalahkan Medianya yg begini.. pornografi..majalah Playboy…Playgirl..PlayGame..PlayPlay?????

Tapi kenapa tidak dipersiapkan sejak dini ?

Yaitu Generasi yg cerdas berakhlak tangguh dan siap menghadapi perubahan zaman dan bahkan mampu merubah zaman …..(insya Allah…)
Kata Prof.Quraish Shihab yg suka baca qur’an dan menghapal qur’an insya Allah daya Ingatnya tinggi gak bakalan PIKUN….itung-itung nambahin IQ…

PEMDA mana lagi yg nyusul ???

Ditulis dalam Arsip, Baca ini, Berita, Catatanku, Muslim, Opini, Renungan | yang berkaitan: , , , , , , | 1 Komentar »

KISAH YU TIMAH

Ditulis oleh indra1082 di/pada 20,Oktober 2007

Kisah yang dituturkan oleh Bpk. Ahmad Tohari yang dimuat dikolom resonansi republika hari Senin, 18 Desember 2006, nyata-nyata telah membuat kita malu dimata Alloh akan rezekinya yang telah kita terima selama ini.

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”

”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”

”Mau ambil berapa?” tanya saya.

”Enam ratus ribu, Pak.”

”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?” Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.

”Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Ditulis dalam Arsip, Baca ini, Berita, Catatanku, Curhat, Kisah, Muslim | yang berkaitan: , , , , , , , | 3 Komentar »

KECANTIKAN WANITA

Ditulis oleh indra1082 di/pada 19,Oktober 2007

Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari. Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.

Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.

Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.

Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.

Ditulis dalam Arsip, Baca ini, Catatanku, Muslim, Opini, Renungan | yang berkaitan: , , , , , | Tidak ada komentar »

Tingginya nilai keikhlasan

Ditulis oleh indra1082 di/pada 19,Oktober 2007

Suatu ketika menjelang shalat Isya seorang pemuda menghampiri Rosulullah saw “Ya Rosulullah, ijinkan saya azan menggantikan bilal saat shalat Isya nanti..”
Namun dengan halus Rosulullan menolaknya.. biarkan saja bilal yang azan ya fulan. dengan perasaan kecewa si fulan menuruti kata2 Rosulullah saw. Tetapi menjelang azan subuh pemuda tersebut kembali menghampiri Rosulullah saw
.
“Ya Rosulullah, ijinkan saya azan menggantikan bilal…..” kali inipun Rosulullah saw menolaknya.

Ketika waktu solat dhuhur hampir tiba, lagi-lagi pemuda tersebut menghadap Rosuulullah saw dengan permintaan yang sama.Namun kali inipun Rosulullah saw menolaknya kembali, “Biarkan bilal saja yang azan, ya fulan..”

Rupa-rupanya pemuda tadi benar2 gigih dan tak mengenal putus asa, menjelang shalat ashar, buru-buru si pemuda menemui Rosulullah saw dengan nada memelas, meminta agar dijinkan mengumandangkan azan.
“Injinkan saya mengumandangkan azan shalat ashar ya Rosulullah, sekali ini saja, menggantikan bilal bin rabbah..”
Menyaksikan keteguhan hati dan kesungguh-sungguhan sang pemuda tadi, akhirnya Rosulullah saw mengijinkannya untuk mengumandangkan azan.

Subhanallah!
Pemuda tadi begitu sempurnanya mengumandangkan azan, suaranya sangat merdu dan indah dalam pendengaran semua orang.Sampai- sampai jama’ah shalat ashar penuh sesak karena sebagian penasaran dan bertanya-tanya “siapa pelantun azan tadi?!”.

Terdengar asing di telinga mereka, karena biasanya setiap waktu shalat tiba, mereka hanya mendengar suara azan bilal bin rabbah.

Rosulullah saw beranjak pulang dari masjid setelah menunaikan shalat ashar berjama’ah.Belum sampai membuka pintu rumah, tiba-tiba malaikat JIBRIL menghadang beliau di depan pintu dengan serta merta bertanya kepada Rosulullah saw :
“Ya, Rosulullah, apakah anda sudah menunaikan Shalat ashar??”
“Ya, Insya Allah. Baru saja aku tunaikan shalat ashar berjama’ah di masjid seperti biasanya..” jawab beliau.
“Benarkah?!. .mengapa TIDAK TERDENGAR SUARA AZHAN ASHAR ??”

Subhanallah! !
begitu tinggi nilai sebuah keikhlasan di sisi Allah, sampai-sampai malaikat jibril sama sekali tidak mendengar suara azan yang begitu keras dan dilantunkan dengan indahnya…. .
karena didalam hati si pemuda ada “penyakit”, ingin semua orang melihatnya, memujinya, mengaguminya. ….
Sesungguhnya. .setitik saja ada noda dihati kita,
Maka Allah swt dapat melihatnya dengan sangat jelas…

Mudah2an Allah swt senantiasa menjaga diri kita untuk senantiasa ikhlas dalam beramal,
beribadah karena mengharap ridho Allah swt, dan beramal soleh karena Allah swt semata-mata,

bukan karena ingin dipandang oleh mata manusia yang banyak kelemahan.

Wallahu a’lam bishshawab.. …

Ditulis dalam Arsip, Baca ini, Kisah, Muslim, Renungan | yang berkaitan: , , , , | Tidak ada komentar »

Lailatul Qadar

Ditulis oleh indra1082 di/pada 6,Oktober 2007

Tiada malam yang mendapat sebutan indah dari Tuhan kecuali lailatul qadar, malam yang kebaikannya melebihi seribu bulan (Qs. 97: 1-5). Rasul juga mencatat keutamaan malam yang ditahbiskan langsung dalam al-Quran itu. Bagaimana memastikan waktunya? “Carilah dia (lailatul qadar)”, demikian Nabi pernah bersabda, “di sepuluh terakhir di bulan Ramadhan pada hitungan ganjil”. (HR. Bukhari Muslim). Pada suatu riwayat, dikatakan bahwa lailatul qadar jatuh pada malam ke 27 Ramadhan. Tapi, pada umumnya, para ulama berselisih pendapat tentang hari H lailatul qadar.

Sang waktu terus bergulir, tak terasa, bulan Ramadhan telah memasuki periode pamungkas. Stadium rahmah dan maghfirah dari bulan ke 9 dari penanggalan lunar ini telah beringsut menuju stadium itqun min al-nar (bebas dari api neraka). Ironisnya, psikologi dan daya fisik umat untuk menambah perbendaharaan ibadah justru menurun drastis pada fase-fase akhir bulan Ramadhan. Terlalu memforsir tenaga pada awal bulan? Bisa jadi! Tapi, pada umumnya, kita dapat mengamatinya dari jumlah peserta terawih yang melorot atau mulai bergesernya wacana Ramadhan ke arah perayaan Idul Fitri yang cenderung bernuansa “festival.”

Idul Fitri sebagai gong penutup puasa sebulan penuh lamanya, dalam tradisi kita, telah sarat dengan makna festival. Dus, Idul Fitri tidak lagi berkonotasi ritual, tapi juga berimplikasi kultural karena bersentuhan dengan muatan lokal. Kita tahu, aspek festival atau perayaan Idul Fitri tersebut biasanya dimarakkan dengan pakaian baru, (cat) rumah baru, makanan, nyadran atau bahkan mercon.

Tema-tema itulah yang mengharu biru wacana akhir bulan Ramadhan. Budaya komsumtif pun berkembang marak seiring dengan prosesi Idul Fitri. Hari raya yang awalnya bermakna “pembaruan kejatidirian” manusia pasca penggodokan di kawah candradimuka Ramadhan, bergeser artinya semata-mata “baru” dalam pengertian fisik dan material. Seharusnya, baju baru, celana baru, sepatu baru atau rumah baru menjadi sarana tajarrud —untuk meminjam istilah kaum sufi—, suatu metode untuk membebaskan diri dari hal-hal yang bersifat material menuju ke alam spiritual justru dengan perantara yang sangat material.

Pada titik krusial itulah, Allah mengirim “bonus istimewa” bagi orang-orang yang giat berpuasa dan bermunajat kepada-Nya. Kita tahu, konstruksi puasa pada bulan suci ini adalah pengejawantahan artikulasi kesalehan dalam Islam yang bercabang dua; Pertama, puasa mengandung kesalehan individual yang mewajibkan pelaku puasa untuk melakukan sikap empati terhadap derita kaum papa, yakni dengan menahan nafsu makan dan minum serta seks dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya sang surya. Inilah artikulasi sikap pasif terhadap sesama. Sementara, kedua, artikulasi sikap aktif orang berpuasa mewujud dalam bentuk sedekah wajib (zakat mal maupun fitrah) maupun sunnah yang diseyogyakan mengisi hari-hari bulan Ramadhan.

Walhal, penghambur-hamburan uang untuk merayakan Idul Fitri bukan saja tidak sensitif terhadap kaum dhuafa, tapi juga melupakan esensi puasa sebagai media tajarrud tadi. Tampaknya, Tuhan bukan tanpa sengaja mengirim bonus istimewa, yakni malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Pada saat ini pula, paket pembebasan dosa masa lalu diberikan dengan pemberian diskon itqun min al-nar. Dalih Dia memilih hari-hari terakhir Ramadhan untuk menstimulasi gairah beribadah setelah terdapat indikasi melunturnya nyali beribadah umat.

Tiada malam yang mendapat sebutan indah dari Tuhan kecuali lailatul qadar, malam yang kebaikannya melebihi seribu bulan (Qs. 97: 1-5). Rasul juga mencatat keutamaan malam yang ditahbiskan langsung dalam al-Quran itu. Bagaimana memastikan waktunya? “Carilah dia (lailatul qadar)”, demikian Nabi pernah bersabda, “di sepuluh terakhir di bulan Ramadhan pada hitungan ganjil”. (HR. Bukhari Muslim). Pada suatu riwayat, dikatakan bahwa lailatul qadar jatuh pada malam ke 27 Ramadhan. Tapi, pada umumnya, para ulama berselisih pendapat tentang hari H lailatul qadar.

Seperti halnya momen sakral lainnya, lailatul qadar juga diliputi kepercayaan bahwa kalau terjadi lailatul qadar maka air akan membeku, cahaya akan redup, suasana akan hening, pohon akan merunduk, udara yang tidak panas dan juga tidak dingin, angin berhenti berhembus, air yang tadinya mengalir langsung berhenti, dan sebagainya. Bisa jadi kepercayaan mistikal tersebut merupakan hiperbola dari pernyataan Rasulullah saw yang menjelaskan tanda-tanda lailatul qadar bahwa pada pagi harinya matahari terbit dengan sinar putih bersih tanpa awan sedikitpun.

Dengan tidak diketahuinya secara pasti kapan malam itu turun, diharapkan justru makin memotivasi kita untuk meraihnya tidak sekadar pada sepuluh hari terakhir tapi sebulan penuh lamanya kita gunakan untuk berbakti kepada Tuhan. Secara etimologis, lailatul qadar berarti malam ukuran. Tetapi, kata lailatul qadar biasa diterjemahkan oleh para ulama dengan sebutan “malam yang agung” atau “malam yang mulia”. Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:

Pertama, penetapan dan pengaturan, sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Dalam arti ini, al-Quran dipahami turun pada malam ini, dan karenanya, Tuhan mengatur dan menetapkan khittah manusia. Kedua, bermakna kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya al-Quran, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam surat al-An’am (6): 91. Dan ketiga berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat al-Qadr. Kata qadar yang berarti sempit digunakan al-Quran antara 1ain dalam surat al-Ra’d (13): 26)

Uniknya, dalam surat al-Qadr, Allah mengajukan “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu: “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (Qs. Al-Qadr 97: 2). Tuhan memakai bentuk pertanyaan ini sebanyak tiga belas kali. Sepuluh di antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang berkait dengan hari kemudian, entah itu yaum al-fashl dan sebagainya. Objek pertanyaan yang dipakai di sini menunjuk hal-hal yang sangat hebat, dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akal pikiran manusia.

Namun tiga pertanyaan sisanya adalah: Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (Qs. Al-Thariq [86]: 2) Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Qs. Al-Balad [90]: 12) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (Qs. Al-Qadr [97]: 2). Khusus pada tiga pertanyaan terakhir ini, meskipun sulit, tapi Tuhan masih memberikan kemungkinan bagi umatnya yang saleh untuk meraih keutamaannya. Dengan demikian, meraih lailatul qadar bukanlah sesuatu yang mustahil karena ia tak menunjuk kepada peristiwa masa depan yang unpredictable kiamat, misalnya. Lailatul Qadar juga tak menunjuk pada even masa lalu yang hanya terjadi sekali pada masa Rasul menerima wahyu ilahi. Ia akan menyertai umat manusia yang haus pencerahan rohani di hari-hari akhir bulan suci.

Ditulis dalam Cerita, Muslim, Renungan | yang berkaitan: , , | Tidak ada komentar »

OBAT HATI YANG ISLAMI [Ar-Royyan-1725]

Ditulis oleh indra1082 di/pada 3,Oktober 2007

Bagaimanakah “obat hati” yang islami itu?

1. Yang pertama adalah membaca Al Qur’an dengan disertai pemahaman maknanya.
Al Qur’an adalah bacaan yang paling cocok dalam segala suasana.
Pada saat kita gembira, maka peringatan-peringatan yang ada
dalam Al Qur’an akan mampu menjadi pengerem agar kita tak lupa diri.
Demikian pula halnya pada saat kita sedih, maka dengan
membaca Al Qur’an terasa sekali dalam lubuk hati kita
sentuhan kesejukan dari Firman Allah SWT. Kala kita gagal dalam mencapai sesuatu, maka pesan-pesan dalam Al Qur’an akan mampu menawarkan kesedihan yang ada dalam hati kita. Dengan membaca Al Qur’an, semangat yang hampir pudar karena kegagalan insya Allah akan berangsur pulih kembali.
Firman Allah dalam
” Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman ….”

2. Yang kedua adalah dengan berdzikir yang lama.
Allah SWT berfirman
” ..ingatlah, hanya dengan mengingat Allah.lah hati menjadi tenang “
Kenapa dengan berdzikir ?
Sebab dengan mengingat Allah, maka timbulah tawakkal
dan penyerahan dirikita kepada Allah. Dan kalau toh apa yang
hendak kita raih tersebut luput terpegang tangan, maka dengan
kembali mengingat Allah, sadarlah kita, mungkin apabila keinginan kita tersebut terkabul, justru mudharotlah yang datang.Dengan demikian yang muncul bukanlah rasa kecewa dan penyesalan, akan tetapi justru syukur yang dalam pada Allah. Bukankah Allah yang paling mengetahui keadaan dan kemampuan kita ?

3. Yang ketiga adalah dengan puasa.
Salah satu hikmah puasa, disamping dapat menimbulkan
perasaan sosial terhadap sesama, adalah untuk kesehatan.
Bukti-bukti cukup banyak, bahwa orang orang yang mengidap mag,
malah sembuh bila berpuasa, padahal menurut ilmu kedokteran
seharusnya orang yang mengidap mag menjaga makannya
agar teratur dan tidak telat. Penulis sendiri juga mengalami,
gangguan pencernaan yang tak kunjung reda, malah sembuh
dengan membiasakan puasa sunah. Ditinjau dari segi kejiwaanpun puasa
ternyata mempunyai efek yang baik sekali.Sebab dengan puasa, secara tidak langsung
seseorang dilatih untuk dapat mengendalikan tuntutan hawa nafsu yang cenderung untuk melakukan hal-hal yang sesat. Dilain pihak, dengan berpuasa, seseorang akan jadi merasa lebih dekat dengan Allah, sehingga merasa lebih aman dan tenteram.

4. Yang ke empat ialah shalat malam.
Shalat tahajut, meskipun tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan
untuk melakukannya. Banyak ayat dalam Al Qur’an yang
menujukkan betapa penghargaan Tuhan terhadap hamba-hambaNya
yang datang menemuiNya, pada saat hamba-hamba yang lain lelap dalam tidur.
Allah menjanjikan, terhadap orang-orang yang bersegera menuju keridhaanNya, suatu derajat yang tinggi.
” Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajutlah kamu sebagai suatu
ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat
yang terpuji “

5. Yang kelima ialah mengunjungi saudara sesama muslim.
Banyak sekali hikmah yang dapat dikaji dari silaturahmi terhadap
sesama saudara muslim ini. Dengan bersilaturami, maka ukhuwah yang hampir retak akan kembali utuh.
Dengan bersilaturami, maka berbagai persoalan yang membelit
kepala insya Allah akan dapat dicarikan penyelesaiannya.
Dengan bersilaturahmi, kita dapat saling berbagi suka dan duka, berbagi kesedihan,
mencurahkan perasaan, sehingga beban berat yang menghimpit, akan terasa lebih ringan,
karena kita tidak sendiri.
Disamping itu, saling pesan dalam kebenaran dan kesabaran hanya mungkin
terlaksana apabila tali ukhuwah tetap terjalin.
berikut teks nasyid TOMBO ATI-nya OPICK

TOMBO ATI(opick)

Tombo ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Qur’an lan maknane
Kaping Pindho sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Alloh Nyembadani

Obat hati itu lima perkaranya
Yang pertama baca qur’an dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang ke empat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Alloh mencukupi

SUMBER :

http://www.myquran.org/forum/archive/index.php/t-3946.html

Semoga Bermanfaat

Ditulis dalam Baca ini, Lagu, Muslim, Renungan | yang berkaitan: , , , | 1 Komentar »