AdilApakah Adil itu? menurut sepengetahuan saya, adil adalah memberikan sesuatu sesuai dengan haknya. Ada juga yang mengatakan, adil itu sama dengan netral, tidak memihak. Adil itu bagus, tetapi untuk bisa berbuat adil itu tidaklah mudah. Menurut Agama hakekat adil yakni pertanggung jawaban kepada Tuhan, karena adil itu lebih dekat kepada Takwa. Lalu apakah kita sudah berbuat adil?, kepada siapakah kita harus berbuat adil? tentunya terhadap segala hal. Jika sebaliknya, kita mendapat perlakuan tidak adil apa yang kita rasakan, pernahkah anda mengalaminya?, tentu kita pernah mengalami perlakuan tidak adil. Lalu apa hubungannya adil dengan materialisme?

Ketika kita menghadiri suatu resepsi pernikahan di gedung, sering kita jumpai tamu yang datang adalah orang kaya dan tepandang dengan menggunakan mobil mewah disambut dengan tergesa-gesa bahkan terkesan tergopoh-gopoh. Ketika kita sedang antri, dan mengalami antrian yang sangat panjang kita melihat ada orang penting atau orang kaya yang dipersilahkan terlebih dahulu.

Apa penyebabnya? Ternyata karena adanya budaya materialisme, dimana seseorang tidak lagi menghargai manusia dari segi akhlak, kepentingan, dan eksistensi, tapi karena melihat apa yang ia kendarai, miliki, kenakan, dan banyaknya harta yang ia punya. Apa yang bisa kita bayangkan jika ini terjadi disebuah lingkungan pendidikan yang katanya benteng moral?, bagaimana jika hal ini terjadi di perkantoran yang kita sering mendengar bersama bahwa permainan suap, dan komisi menjadi menu keseharian?. Apakah kita akan menjawab bahwa ini sebuah kebiasaan atau kewajaran yang perlu dimaklumi?

Ternyata kehidupan budaya materialisme semakin merajalela, bukan hanya dikalangan manusia biasa, tapi sudah merambah dikalangan pemimpin, pendidik, bahkan pemuka agama sekalipun. Sebagai contoh seorang Kepala sekolah menyambut wali murid yang kaya raya dan menempatkan lebih dari 2 anaknya untuk bersekolah ditempat ia mengajar dan dengan bayaran yang berbeda dengan sambutan yang sangat spesial dan terkesan berlebihan, bahkan dengan seenaknya menyuruh bawahannya ini dan itu yang sebenarnya wali murid tersebut adalah tetangga bahkan teman ngobrol sang bawahan.

Jika budaya ini tidak segera dihindari dan dicegah maka akan merusak nilai-nilai dan hakekat kemanusiaan. Karena menurut Hadits Nabi, “Perlakukanlah tiap manusia sebagaimana engkau ingin diperlakukan”. Jangan sampai materi sedikit demi sedikit menyingkirkan kenyamanan dan kehormatan dari sebuah nilai kemanusiaan.

Iklan