Saat Roy sendiri, dia tekan tuts2 dihadapannya merangkai huruf demi huruf menjadi barisan kata dan menyusunnya menjadi sebuah kalimat. Roy hanya sendiri, tiada siapapun disisinya dan sekitarnya. Roy memang penyendiri, namun dalam kesendiriannya dia membuat sesuatu yang dapat membuat ramai, membuat gaduh dan menjadi buah bibir masyarakat luas. Ketika sesuatu itu semakin hari semakin menunjukkan kualitasnya, selalu dicari dan diburu untuk dikonsumsi, ketika itu pula Roy semakin menyendiri. Saat kawan-kawan terbaiknya mengajaknya melihat karyanya disebuah keramaian, Roy tetap memilih untuk menyendiri. Roy tak pernah tertarik dengan sesuatu yang ia ciptakan menimbulkan keramaian. Ia jengah dengan segala riuh rendah.
Hingga suatu hari dia melihat dimedia, baik cetak maupun elektronik, kawan-kawan terbaiknya berkumpul merayakan keberhasilan sesuatu yang diciptakannya itu dengan suka ria, penuh canda dan tawa tanpa dirinya.
Dan dengan tiba-tiba Roy terhenyak, tersentak dengan mata terbelalak saat sebuah belati tertancap dengan mulus dipunggungnya. Ketika dia menoleh kebelakangΒ  “ah.. ternyata kawanku”, bisiknya.

Iklan