Aku Adalah Aku dan Akan Tetap Menjadi AKu

Category Archives: Fiksi

Waktu menunjukkan pukul 02:17 WIB, tandanya? sudah larut malam, bukan sekedar larut, namun hampir menjelang pagi, bahkan untuk sebagian orang sudah terhitung pagi.

Lalu apa yang kau lakukan?  Aku? entah…. hanya menunggu waktu. Begadang? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Baca lebih lanjut

Iklan

Ketika ku jatuh, kau bangunkanku. Benarkah kau sahabatku ?
Saat ku lelah, kau menyegarkanku. Inikah sahabatku?
Saat ku terluka, kau mengobatiku. Apakah ini sahabatku?
Teman, Kawan, Sahabat, atau Saudara.
Dimanakah letak sebutanmu?

Kukata teman, kau bagai kawan
Kusebut Kawan, kau laksana Sahabat Baca lebih lanjut


Wahai orang yang lebih tua…
Begitu banyak yang tidak dapat aku raih.
Mohon jangan marah padaku, aku akan berusaha lebih keras.
Aku benar-benar akan mencoba yang terbaik yang aku bisa.
Dan aku akan menutup mata dari dunia yang panas.
Jangan salahkan aku untuk hal yang tidak pernah aku lakukan.
Aku akan pergi sekarang dan akan diam, silahkan berhenti berteriak, dan mencintaiku.
Aku akan berfantasi tentang dunia dimana aku bisa bebas dan bebas untuk menjadi apa yang aku inginkan.
Baca lebih lanjut


Sekian lama tenggelam

terlena oleh buaian mimpi-mimpi tak pasti

meninggi oleh ketidak puasan yang tamak

termakan janji-janji tak berujung bukti

ada tapi tak berdaya

bernyawa tapi tak bergerak

beraga tapi tak berguna

Kejenuhan mencapai titik nadir

Kepuasan telah berakhir

Ketidak pastian mengukir

menggerakkan alam bawah sadar sampai akhir


Jam pulang kantor tiba, pukul 15.00 WIB . Roy pun beranjak bangun dari tempat duduknya, setelah sebelumnya mematikan komputer dan AC. Lalu bersiap-siap untuk pulang dengan tak lupa menelpon istrinya bahwa dia akan pulang malam karena ada lembur, rapat mendadak atau apalah…. di pintu parkiran telah menunggu pretty, rekan satu kantor Roy dan dengan senyuman hangat pretty membonceng motor Roy menuju kesuatu tempat… Setelah sampai tujuan Roy memesan tempat disebuah Hotel dan………….menjelang pukul 07.00 WIB Roy keluar dengan Pretty dengan muka segar dan ceria… Setelah mengantarkan Pretty pulang Roy pun melanjutkan perjalanan, tapi..telepon berdering, ternyata istrinya menanyakan kenapa belum pulang dan kenapa ramai sekali seperti sedang dijalan raya, Roy pun menjawab bahwa dia habis membeli makanan. urusan beres Roy pun melaju kembali, kali ini menuju kekediaman Fany. Fany tinggal dirumah sendirian, orang tuanya pergi berlibur keluar kota, dirumah hanya ada pembantu yang bekerja hanya sampai pukul 05 sore. Fany merupakan kawan Roy sewaktu kuliah dulu. Setelah sampai di rumah Fany Roy istirahat sejenak dan setelah itu melakukan hal sama seperti yang dilakukannya bersama Pretty tadi… Tapi kali ini setelah melakukan bersama Fany dan belum sempat Roy berkemas dan bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba sang istri sudah berdiri disamping ranjang dan……………. menyuruh Roy untuk mandi karena fajar telah menyingsing tanda Roy harus kembali memulai aktifitas seperti hari-hari sebelumnya.

Setengah melongo Roy pun tersenyum, dibenaknya berkecamuk, senang karena apa yang dia lakukan ternyata hanya ada dialam tidur, tapi setengah menyesal dan setengah nyengir otak kotornya berkata, kenapa ini semua hanya mimpi… Roy pun melaju.


Sebuah keluarga terdiri dari Ayah, Ibu dan 4 orang anak. Anak Sulung gadis kelas 2 SMA sebut saja Sulung, anak kedua laki-laki kelas 1 SMP sebut saja DUA, ketiga laki-laki kelas 2 SDsebut saja TIGA, dan terakhir, putri kecil berusia 3 tahun sebut saja Bungsu.

Sang Ayah yang bertitel Haji selalu menekankan kepada anak-anaknya tentang pentingnya Agama, dan mengajar hal-hal yang bersifat religi. Sang ibu pedagang kelontong disebuah pasar yang ramai pengunjung karena dekat objek wisata.

Minggu pagi  Sang Ayah sudah berdiam di Masjid dari dini hari tadi, menjelang pukul 06 pagi ayah belum pulang karena masih sibuk mengaji. Seluruh anak belum terbangun walaupun hari sudah terang dan teriakan Sang Ibu membangunkan anak-anaknya berlomba dengan hiruk pikuk kokok ayam diluar. Setelah dipaksakan bangun apa yang terjadi?

Si Sulung berkutat dengan HP nya, sms sepanjang hari tanpa memperhatikan rumahnya yang berantakan, entah karena hari libur atau memang malas. Sementara Dua dan Tiga berkelahi memperebutkan jatah uang jajan yang menurut kedua belah pihak tidak adil. Dua beranggapan bahwa dia lebih besar sehingga uang jajan harus lebih banyak pula, sedangkan Tiga beranggapan bahwa dia dan Dua itu sama sehingga jatahpun harus sama. Bungsu pun berulah, tiap makanan yang ada didepan para kakaknya diminta dan bila tidak diberi maka tangisnya pun pecah memekakkan telinga. Semakin sang kakak marah semakin kencang pula tangisnya.

Sang Ibu pun berangkat berdagang dengan bayangan dikepalanya berapa keuntungan yang akan dia dapat hari ini tanpa memperdulikan sudah kah Si ibu mempersiapkan makanan untuk  Suami dan anak-anaknya yang ditinggalkan, masing-masing anak hanya dibekali uang sekian rupiah untuk jajan pengganjal lapar dari pagi hingga sore hari.

Sampai sang Ayah pulang dari masjid dan akan berangkat kerja suasana rumah masih seperti itu, Sulung masih santai rebahan dilantai sambil sibuk dengan HP nya. Si Dua dan Tiga masih meributkan hal yang tadi sambil merengek kepada Ayahnya untuk meminta tambahan jatah uang jajan, si Bungsu pun kembali menangis ingin ikut Ayahnya sambil menanyakan keberadaan Sang Ibu.    END.

kalau sudah baca, lanjut kesini