Aku Adalah Aku dan Akan Tetap Menjadi AKu

Tag Archives: Fiksi

Waktu menunjukkan pukul 02:17 WIB, tandanya? sudah larut malam, bukan sekedar larut, namun hampir menjelang pagi, bahkan untuk sebagian orang sudah terhitung pagi.

Lalu apa yang kau lakukan?  Aku? entah…. hanya menunggu waktu. Begadang? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Baca lebih lanjut

Iklan

Ketika ku jatuh, kau bangunkanku. Benarkah kau sahabatku ?
Saat ku lelah, kau menyegarkanku. Inikah sahabatku?
Saat ku terluka, kau mengobatiku. Apakah ini sahabatku?
Teman, Kawan, Sahabat, atau Saudara.
Dimanakah letak sebutanmu?

Kukata teman, kau bagai kawan
Kusebut Kawan, kau laksana Sahabat Baca lebih lanjut


home Memilih rumah tidak hanya terpaut pada model atau ukurannya saja, tapi faktor kenyamanan dan lingkungan sangat berpengaruh. Tapi jika anda dituntut untuk memilih salah satu dari 3 buah rumah yang berbeda, dan hanya untuk tempat singgah bukan untuk tempat tinggal,  rumah manakah yang akan menjadi pilihan utama anda?

  1. Baca lebih lanjut

Sebuah keluarga terdiri dari Ayah, Ibu dan 4 orang anak. Anak Sulung gadis kelas 2 SMA sebut saja Sulung, anak kedua laki-laki kelas 1 SMP sebut saja DUA, ketiga laki-laki kelas 2 SDsebut saja TIGA, dan terakhir, putri kecil berusia 3 tahun sebut saja Bungsu.

Sang Ayah yang bertitel Haji selalu menekankan kepada anak-anaknya tentang pentingnya Agama, dan mengajar hal-hal yang bersifat religi. Sang ibu pedagang kelontong disebuah pasar yang ramai pengunjung karena dekat objek wisata.

Minggu pagi  Sang Ayah sudah berdiam di Masjid dari dini hari tadi, menjelang pukul 06 pagi ayah belum pulang karena masih sibuk mengaji. Seluruh anak belum terbangun walaupun hari sudah terang dan teriakan Sang Ibu membangunkan anak-anaknya berlomba dengan hiruk pikuk kokok ayam diluar. Setelah dipaksakan bangun apa yang terjadi?

Si Sulung berkutat dengan HP nya, sms sepanjang hari tanpa memperhatikan rumahnya yang berantakan, entah karena hari libur atau memang malas. Sementara Dua dan Tiga berkelahi memperebutkan jatah uang jajan yang menurut kedua belah pihak tidak adil. Dua beranggapan bahwa dia lebih besar sehingga uang jajan harus lebih banyak pula, sedangkan Tiga beranggapan bahwa dia dan Dua itu sama sehingga jatahpun harus sama. Bungsu pun berulah, tiap makanan yang ada didepan para kakaknya diminta dan bila tidak diberi maka tangisnya pun pecah memekakkan telinga. Semakin sang kakak marah semakin kencang pula tangisnya.

Sang Ibu pun berangkat berdagang dengan bayangan dikepalanya berapa keuntungan yang akan dia dapat hari ini tanpa memperdulikan sudah kah Si ibu mempersiapkan makanan untuk  Suami dan anak-anaknya yang ditinggalkan, masing-masing anak hanya dibekali uang sekian rupiah untuk jajan pengganjal lapar dari pagi hingga sore hari.

Sampai sang Ayah pulang dari masjid dan akan berangkat kerja suasana rumah masih seperti itu, Sulung masih santai rebahan dilantai sambil sibuk dengan HP nya. Si Dua dan Tiga masih meributkan hal yang tadi sambil merengek kepada Ayahnya untuk meminta tambahan jatah uang jajan, si Bungsu pun kembali menangis ingin ikut Ayahnya sambil menanyakan keberadaan Sang Ibu.    END.

kalau sudah baca, lanjut kesini