Jumat pagi kemari, aku dan anak MBC (cuma 5 motor) mengadakan survei ke Ciater-Subang guna memesan villa untuk acara Touring MBC yang akan diadakan kira-kira tanggal 22 Maret besok. Perjalanan kami tempuh sekitar 5 1/2 jam perjalanan, mungkin terlalu lama dikarenakan kita berjalan tidak terlalu ngebut max 60km/jam dan konvoi. Sesampainya disana kami segera mencari villa yang tepat dan pas untuk kami nanti, kami lakukan dengan segera kenapa, karena teman2 yang lain akan melanjutkan perjalanan pulang, selain hawa dingin dan hujan gerimis kabut pun mulai menutupi sebagaian awan, anda pasti tau kondisi cuaca didaerah yang dekat sekali dengan gunung Tangkuban Perahu,  sedangkan aku tidak ikut pulang, aku menginap dirumah mertuaku yang kebetulan tinggal di ciater dan bekerja diobyek pariwisatanya (promosi nih..). aku merasakan perbedaan yang amat sangat jauh berbeda dengan kondisi Jakarta. Bukan hanya masyarakatnyatapi terutama cuacanya, mungkin pasti berbeda karena aku sedang berada pada daerah pegunungan yang jalanannya walaupun bagus dan beraspal tapi dibuat berkelok-kelok bak Ular serta naik turun yang membuat motor ku sering meraung-raung.

Hari sabtu, hari pertama aku menginap aku merasakan kedinginan yang teramat sangat. Tidur harus menggunakan selimut tebal itupun plus dengan jaket dan sarung yang aku pakai terlebih dahulu. Pagi hari aku mandi disuguhi air yang teramat dingin, seolah-olah aku mandi disamping freezer yang sedang dibuka pintunya. Brr…… ketika air mengguyur tubuhku, dan aku tidak kurang dari 5 menit menghabiskan waktu mandi, padahal di Jakarta aku bisa menghabiskan waktu 15 menit. siang hari yang aku lakukan hanya makan dan tidur (maklum udara dingin, laper terus bawaannya dan mumpung libur gak ada kerjaan hehehe). siang harinya aku pergi ke obyek wisata ciater untuk mandi air panas alami atau yang disebut Hot Spring water. Untuk menghangatkan badan yang sejak semalam menggigil kedinginan dan disamping itu mumpung Gratis, karena aku masuk berbarengan dengan mertuaku yang berangkat kerja. Selain mandi air panas aku pun tidak lupa menikmati pemandangan yang aku pernah lihat sewaktu aku masih duduk dibangku TK dulu. Tidak ada yang berubah dengan alamnya (sayang tidak ada skrinsyutnya) hanya ada tambahan beberapa arena permainan dan kolam renang serta pusat perbelanjaan dan oleh-oleh. Sore hari nya aku benar-benar tidak kuat dengan yang namanya tersentuh air dirumah, itu pun terpaksa karena aku harus berwudhu, keesokan paginya akupun kembali ke Jakarta, kembali ke kota tempat tinggalku, kembali untuk bekerja, dan kembali untuk menikmati hawa panas akibat global warming. Sungguh berbeda alam Ciater dengan Jakarta. Semoga kelestarian dan kealamian ciater tidak terkontaminasi oleh tangan-tangan yang jahil dan serakah.